Home > Artikel, Journal, PAUD > Belajar memaknai tindakan pendidikan

Belajar memaknai tindakan pendidikan

Didalam sistem pendidikan nasional, pada jalur pendidikan formal terdapat tiga jenjang penddikan, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lainnya yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah atau bentuk lain yang sederajat.

Adapun yang dimaksud dengan sekolah dasar adalah salah satu bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan pendidikannya selama enam tahun. Pendidikan dasar (baca; Sekolah Dasar) sebagaimana yang dibahas dalam laporan studi lapangan ini, adalah bagian rangkaian proses pendidikan yang awal yang dilaksanakan anak sekitar 6-12 tahun, atau secara yuridis adalah sebagai salah satu bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program pendidikan 6 Tahun. Menurut teori freud, kehidupan awal manusia adalah awal yang menentukan dalam pembentukan pribadi, sebab pengalaman hidup pertama menentukan pola-pola persepsi, tujuan proses belajar dan ukuranukuran penilaian.

Anak-anak yang belum sanggup menilai pada dirinya dan tidak mempunyai lambang-lambang untuk pengalamannya, berada pada masa yang paling lentur dalam pertumbuhannya, kalau pribadinya terus tumbuh, maka makin lama makin sukar untuk mempengaruhinya. Memaknai uraian diatas tentunya pendidikan tidak sesederhana dan terbatas pada konteks pengajaran, pendidikan memiliki arti yang lebih luas dan mulia. Menurut

Nanag Fatah (2007), pelaksanaan kegiatan memiliki hal pokok kegiatan sebagai berikut: 1. Anak didik sebagai individu yang berkembang (anak didik berbeda dengan orang dewasa disesuaikan dengan perkembangannya) 2. Kewibawaan dan tanggungjawab pendidik (pendidikan mengarahkan anak untuk rela dan sadar berpartisipasi dalam setiap proses pendidikan yang diprakarsai oleh pendidik) 3. Kebebasan dan keterikatan anak didik (memiliki strategi yang sesuai) 4. Motivasi dalam kegiatan pendidikan (anak didik tidak menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku yang belajar) 5. Asas aktifitas dalam kegiatan pendidikan (interaksi pendidik dengan peserta didik) Peranan pendidik dan anak didik dihadapkan pada kompleksitas peran, namun pada dasarnya peran tersebut tersirat dalam semboyan : “ing ngarso sung tuludo” artinya pendidik harus memberikan tauladan yang baik bagi anak didiknya, “ing mangun karsa” artinya pendidik harus mampu membangun karsa (kehendak), “tut wuri handayani” artinya sepanjang tidak berbahaya, pendidik harus memberikan kebebasan atau kesempatan pada anak didik untuk belajar mandiri. Karena anak didik bukanlah miniatur orang dewasa sebagaimana masih banyak anggapan dan sikap pendidik selama ini, tetapi anak didik dalam hakikat kepribadiannya merupakan pribadi bebas yang mempunyai hak memilih dan berekspresi dalam kegiatan pendidikannya.

Kata pendidikan muncul berasal dari kata pedagogic, dalam bahasa Yunani pedagogic berasal dari kata “paeda” dan “agogos”, yang diumpamakan pada pekerjaan orang dizaman tersebut yang bekerja sebagai pembawa anak-anak ke sekolah.. selanjutnya pedagogic menjadi istilah dalam ilmu mendidik. Ilmu mendidik mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar pengajaran, walaupun keduanya sering bersamaan. Hakikat pendidikan sebenarnya terletak pada penanaman nilai-nilai dan berbeda dengan pengajaran yang fokusnya lebih kepada penyampaian pengetahuan dan keterampilan sehingga lebih terarah kepada wilayah kognitif dan psikomotorik, dan tentunya berbeda dengan pendidikan yang lebih focus kepada ranah afektif, yang berurusan dengan pembentukan watak untuk mengarahkan prilaku anak didik. Disini dapat ditarik pemahaman bahwa seorang pendidik harus mempunyai kewibawaan. Sedangkan kewibawaan seorang pendidik biasanya dapat diraih dengan memiliki wawasan, keilmuan, dan tanggung jawab. Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun secara kelompok. Berbicara tujuan pendidikan akan menyangkut norma dan nilai-nilai dalam dimensi kehidupan serta konteks kebudayaan baik dalam mitos, kepercayaan, religi, filsafat, ideology, dan sebagainya.

Dalam menentukan tujuan pendidikan ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan, seperti yang dikemukakan oleh Hummel (1977), seperti yang dikutip dalam buku pengantar filsafat pendidikan (Uyoh Sadulloh, 2006) antara lain: 1. Autonomy. Gives individuals and groups the maximum awareness, knowledge and ability so that can manage their personal and collective life to the greates possible extent 2. Equity. Enable all citizens to parcitipate in cultural and economic life by coffering them and equal basic education 3. Survival. Permite every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generations, but also guide education towards mutual understanding and toward what has become a worldwide realizations of common destny Tujuan pendidikan harus mengandung ketiga nilai: pertama, autonomy, yaitu memberi kesadaran, pengetahuan dan kemampuan secara maksimum kepada individu maupun kelompok, untuk hidup mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang klebih baik. Kedua, equity (keadilan), berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberikan kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan budaya dan ekonomi, dengan memberikan pendidikan dasar yang sama. Ketiga. Survival, yang berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Berdasarkan ketiga nilai tersebut semestinya pendidikan hadir dalam rangka menjamin kehidupan yang lebih baik dengan terciptanya kemandirian peserta didik, menghasilkan generasi yang lebih unggul, manusia-manusia yang berkepribadian dan berbudaya. Bahkan nilai-nilai tersebut lingkup yang lebih universal menyangkut masa depan kehidupan seluruh umat manusia.

Tersirat bahwa tujuan pendidikan untuk menhasilkan kehidupan yang lebih baik, dan dapat menjamin pewarisan budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya, karena pendidikan berlangsung seumur hidup sejak adanya manusia. Lembaga pendidikan tentunya harus memperhatikan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu dari aspek visi dan misi sekolah, kurikulum, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta hal lain mengacu pada standart pendidikan nasional.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: